Pernah mencoba Myers-Briggs Type Indicator? menurut saya ini adalah salah satu test yang paling baik dalam membantu kita mengenali kepribadian diri sendiri, dan yang terpenting, membantu mengenali kecenderungan kerja. Terutama bagi mereka yang sedang dalam usia produktif.. dan ingin meraih bentuk kinerja puncak.
Dalam test tersebut kita dihadapkan dengan empat dikotomi. Apakah kita orang yang introvert atau extrovert? Apakah kita membangun persepsi dengan indrawi atau intuisi? Apakah kita mengambil keputusan dengan pikiran atau perasaan? Dan apakah kita orang yang membutuhkan struktur kerja agar efektif (judging), atau justru membutuhkan fleksibilitas tinggi untuk bisa kreatif atau produktif (perceiving) ?
Dan pada hari-hari ini saya sedang dibenturkan dengan dilema dari dikotomi yang terakhir. Saya tumbuh sebagai anak dan remaja yang fokus. Kalau sudah punya satu keinginan dan target, saya bisa menyisihkan segalanya demi memusatkan diri meraih target itu. Banyak kejadian, kesempatan, prestasi, saya raih dengan cara itu semasa anak-anak dan remaja.
Namun ketika tiba di Bandung seiring kuliah di ITB, kehidupan kampus seakan mendidik saya untuk fleksibel sehingga dapat meraih sebanyak mungkin pengalaman dan kesempatan. Dan saya memang mendapatkan banyak manfaat dari fleksibilitas itu. Dia juga memberi saya ruang untuk memelihara dan mewujudkan idealisme-idealisme saya.
Kini, setelah lebih dari 4 tahun saya lulus dan melepas status mahasiswa, dan tidak lagi berada di kehidupan kampus, saya mulai merasakan dilema itu. Untuk saat ini, tampaknya saya harus kembali ke karakter dasar saya ketika bekerja : terstruktur dan fokus. Namun ternyata itu memang tidak mudah. Selain karena sudah begitu terbiasa dengan fleksibilitas tinggi, sampai saat ini saya memang masih membutuhkan fleksibilitas itu.
Pada akhirnya–setidaknya untuk saat ini–saya perlu membangun sebentuk keseimbangan. Dan untuk itu dibutuhkan sebentuk kedisiplinan yang lebih tersirat, bukan sebentuk jadwal kegiatan, bukan sebentuk patokan-patokan atau rukun tindakan. Sesuatu yang lebih menuntut kesungguhan hati.
mungkin masalah penyesuaian diri aja dgn kondisi skrg…
saya rasa dimanapun fleksibilitas dan disiplin tuh bagus2 aja di jalanin berbarengan..
fleksible dalam bergaul.. dan disiplin dalam bekerja..
Kuantifikasi hal kualitatif ya, Bang Firman ? Myer-Briggs salah satu referensi bagus untuk mengkuantifikasi kapasitas personal yang kualitatif.
Analog dengan Deming yang mengkuantifikasi manajemen kualitas via kompetensinya di bidang statistik, kuantifikasi- kualitatif.
Hm, salah satu nasehat paman saya yang sering saya ingat adalah, “Life is Learn”, ternyata semakin banyak “membaca” dengan segala bentuk “bacaan”, berikut mengevaluasi bacaan tadi dengan kontemplasi dan penarikan hipotesa sementara, baru tahu potensi spesies manusia itu, unlimited.
Bahkan, kita sering terjebak dengan “label”, bisa berupa identifikasi lingkungan terhadap siapa kita, gelar kompetensi, hingga kita sendiri yang me”label” i kita. Padahal, bisa jadi kita punya dimensi personal yang belum tersentuh, who knows ?
Dan dari pengalaman itu, baru paham sekarang bahwa kita bisa jadi apa saja, dan siapa saja yang kita inginkan, tapi ternyata pemahaman semacam ini tidak semua manusia paham, bahwa spesies manusia diberikan hak untuk membangun (dan menghancurkan) hidupnya sendiri, otonomi pemberian Tuhan.
Keep cool Bang Firman