Pernah mencoba Myers-Briggs Type Indicator? menurut saya ini adalah salah satu test yang paling baik dalam membantu kita mengenali kepribadian diri sendiri, dan yang terpenting, membantu mengenali kecenderungan kerja. Terutama bagi mereka yang sedang dalam usia produktif.. dan ingin meraih bentuk kinerja puncak.
Dalam test tersebut kita dihadapkan dengan empat dikotomi. Apakah kita orang yang introvert atau extrovert? Apakah kita membangun persepsi dengan indrawi atau intuisi? Apakah kita mengambil keputusan dengan pikiran atau perasaan? Dan apakah kita orang yang membutuhkan struktur kerja agar efektif (judging), atau justru membutuhkan fleksibilitas tinggi untuk bisa kreatif atau produktif (perceiving) ?
Dan pada hari-hari ini saya sedang dibenturkan dengan dilema dari dikotomi yang terakhir. Saya tumbuh sebagai anak dan remaja yang fokus. Kalau sudah punya satu keinginan dan target, saya bisa menyisihkan segalanya demi memusatkan diri meraih target itu. Banyak kejadian, kesempatan, prestasi, saya raih dengan cara itu semasa anak-anak dan remaja.
Namun ketika tiba di Bandung seiring kuliah di ITB, kehidupan kampus seakan mendidik saya untuk fleksibel sehingga dapat meraih sebanyak mungkin pengalaman dan kesempatan. Dan saya memang mendapatkan banyak manfaat dari fleksibilitas itu. Dia juga memberi saya ruang untuk memelihara dan mewujudkan idealisme-idealisme saya.
Kini, setelah lebih dari 4 tahun saya lulus dan melepas status mahasiswa, dan tidak lagi berada di kehidupan kampus, saya mulai merasakan dilema itu. Untuk saat ini, tampaknya saya harus kembali ke karakter dasar saya ketika bekerja : terstruktur dan fokus. Namun ternyata itu memang tidak mudah. Selain karena sudah begitu terbiasa dengan fleksibilitas tinggi, sampai saat ini saya memang masih membutuhkan fleksibilitas itu.
Pada akhirnya–setidaknya untuk saat ini–saya perlu membangun sebentuk keseimbangan. Dan untuk itu dibutuhkan sebentuk kedisiplinan yang lebih tersirat, bukan sebentuk jadwal kegiatan, bukan sebentuk patokan-patokan atau rukun tindakan. Sesuatu yang lebih menuntut kesungguhan hati.

Sepuluh tahun yang lalu, 1999, Ambon membara. Masih ingat? Kejadian itu mengagetkan kita. Di sebuah bangsa yang katanya ramah bisa pecah perang terbuka yang kental dengan sentimen perbedaan agama. Seakan perang palestina – israel menjadi begitu dekat di sebrang pulau.
Sebuah pernyataan menyeruak ke tengah kontroversi : konflik Palestina – Israel adalah konflik kedaulatan, bukan konflik suku, ras, ataupun agama.
Sudah beberapa hari konflik Palestina – Israel berkobar lagi, 14 hari hingga hari ini. bagaimana respon hati kita sejak awalnya? pertanyaan ini saya ajukan kepada diri sendiri, dan rekan-rekan muslim.
Ada apa sebenarnya dengan Bangsa Israel ini? Kalaulah semua berita yang saya dengar selama ini benar, mengapa tabiat mereka begitu rupa? maka wajar rasanya pertanyaan ini muncul. Seperti apa sebenarnya tabiat mereka sebagai sebuah bangsa…?