9 Februari 2009 oleh muhfirman
Pernah mencoba Myers-Briggs Type Indicator? menurut saya ini adalah salah satu test yang paling baik dalam membantu kita mengenali kepribadian diri sendiri, dan yang terpenting, membantu mengenali kecenderungan kerja. Terutama bagi mereka yang sedang dalam usia produktif.. dan ingin meraih bentuk kinerja puncak.
Dalam test tersebut kita dihadapkan dengan empat dikotomi. Apakah kita orang yang introvert atau extrovert? Apakah kita membangun persepsi dengan indrawi atau intuisi? Apakah kita mengambil keputusan dengan pikiran atau perasaan? Dan apakah kita orang yang membutuhkan struktur kerja agar efektif (judging), atau justru membutuhkan fleksibilitas tinggi untuk bisa kreatif atau produktif (perceiving) ?
Dan pada hari-hari ini saya sedang dibenturkan dengan dilema dari dikotomi yang terakhir. Saya tumbuh sebagai anak dan remaja yang fokus. Kalau sudah punya satu keinginan dan target, saya bisa menyisihkan segalanya demi memusatkan diri meraih target itu. Banyak kejadian, kesempatan, prestasi, saya raih dengan cara itu semasa anak-anak dan remaja.
Namun ketika tiba di Bandung seiring kuliah di ITB, kehidupan kampus seakan mendidik saya untuk fleksibel sehingga dapat meraih sebanyak mungkin pengalaman dan kesempatan. Dan saya memang mendapatkan banyak manfaat dari fleksibilitas itu. Dia juga memberi saya ruang untuk memelihara dan mewujudkan idealisme-idealisme saya.
Kini, setelah lebih dari 4 tahun saya lulus dan melepas status mahasiswa, dan tidak lagi berada di kehidupan kampus, saya mulai merasakan dilema itu. Untuk saat ini, tampaknya saya harus kembali ke karakter dasar saya ketika bekerja : terstruktur dan fokus. Namun ternyata itu memang tidak mudah. Selain karena sudah begitu terbiasa dengan fleksibilitas tinggi, sampai saat ini saya memang masih membutuhkan fleksibilitas itu.
Pada akhirnya–setidaknya untuk saat ini–saya perlu membangun sebentuk keseimbangan. Dan untuk itu dibutuhkan sebentuk kedisiplinan yang lebih tersirat, bukan sebentuk jadwal kegiatan, bukan sebentuk patokan-patokan atau rukun tindakan. Sesuatu yang lebih menuntut kesungguhan hati.
Ditulis dalam Kontemplasi, PengembanganDiri | yang berkaitan kebiasaan, kepribadian, keseimbangan | 2 Komentar »
19 Januari 2009 oleh muhfirman

Tuhan, dihadapan segala isi dunia, melintasi peristiwa demi peristiwa, Kau hadapkan senantiasa hati kami pada rahasiaMu, Kau getarkan dengan begitu halusnya nurani kami untuk mendengar siratanMu, Kau heningkan hidup kami hingga tak ada lagi suara-suara, hingga kami pun kembali menghadapkan hati kepadaMu.
Tuhan, terima kami yang kembali menatapMu. Dalam hening, menyata ikhlas, semesta kepasrahan.
.
Ditulis dalam Kontemplasi, Spiritualitas | 3 Komentar »
17 Januari 2009 oleh muhfirman
Sepuluh tahun yang lalu, 1999, Ambon membara. Masih ingat? Kejadian itu mengagetkan kita. Di sebuah bangsa yang katanya ramah bisa pecah perang terbuka yang kental dengan sentimen perbedaan agama. Seakan perang palestina – israel menjadi begitu dekat di sebrang pulau.
Ambon menjadi medan perang. Segregasi yang telah berlangsung lama, perlahan-lahan benihnya tumbuh sejak tahun 1970an, akhirnya meledak. Dan hari-hari itu semakin mengental, mengeras. Obet lawan Acang. Ikat kepala merah lawan ikat kepala putih. Silih berganti rumah ibadah diserang. Sekian masjid dihancurkan, hingga saatnya balasan dilakukan, gereja-gereja pun berakhir sama. Jauh bertahun-tahun sebelumnya kampung muslim dan kampung kristen memang selalu terpisah. Dan pada saat itu pemisahan itupun menjadi pembatas yang sangat jelas akan wilayah kendali dan pertahanan masing-masing.
Lanjut Baca »
Ditulis dalam Humaniora, Kontemplasi, Spiritualitas | yang berkaitan ambon, kemanusiaan, konflik, perang agama | 2 Komentar »
16 Januari 2009 oleh muhfirman
Sudah cukup banyak referensi dan opini seputar sejarah konflik Palestina – Israel di jagad maya, sebagiannya juga membantu kita melihat kemungkinan masa depan konflik ini. Sejauh pembacaan saya, salah satu yang paling menarik adalah diskursus tentang ‘duduk perkara’ konflik ini.
Kalau ada yang mengatakan ‘duduk perkara’ konflik panjang tak berkesudahan ini adalah konflik kedaulatan, tak salah juga menurut saya. Hanya saja saya ingin mengajak untuk berpikir lebih dalam, mencoba mencari hal-hal terpendam yang membuat kedua bangsa ini tak juga bersedia untuk saling mengakui kedaulatan masing-masing.
Ya, kedaulatan sesungguhnya adalah hasil. Sementara hal-hal yang mendorong sebuah bangsa menginginkan kedaulatannya sendiri, dan juga MENOLAK mengakui kedaulatan bangsa lain, adalah hal-hal primordial : agama, ideologi, pandangan hidup, nilai, budaya, tradisi, ras.
Lanjut Baca »
Ditulis dalam Humaniora, SosialPolitik | Leave a Comment »
14 Januari 2009 oleh muhfirman
Sebuah pernyataan menyeruak ke tengah kontroversi : konflik Palestina – Israel adalah konflik kedaulatan, bukan konflik suku, ras, ataupun agama.
Sebuah pernyataan sederhana, cukup menarik, dan mungkin tidak terpikirkan oleh orang banyak. Sejauh ini, dalam kadar tertentu menurut saya cukup menjawab. Meski tak juga selesai. Bagaimanapun kedaulatan hanyalah hasil, akibat. Alasan-alasan yang mendasari sebuah kaum menginginkan kedaulatan sendiri pada akhirnya kembali ke faktor-faktor primordial : agama, keyakinan, pandangan hidup, tradisi, budaya, ras.
Lanjut Baca »
Ditulis dalam Humaniora, SosialPolitik | yang berkaitan kedaulatan, bangsa, indonesia | Leave a Comment »
9 Januari 2009 oleh muhfirman
Sudah beberapa hari konflik Palestina – Israel berkobar lagi, 14 hari hingga hari ini. bagaimana respon hati kita sejak awalnya? pertanyaan ini saya ajukan kepada diri sendiri, dan rekan-rekan muslim.
Mungkin banyak yang berkata kalau konflik Palestina – Israel bukanlah konflik agama. Tapi sejujurnya kami yang muslim peduli kepada palestina tidak hanya karena merekalah yang terzalimi secara kemanusiaan di dalam konflik ini, namun juga, dan terutama, karena kami muslim dan bangsa palestina adalah bangsa muslim. Menjadi sangat wajiblah bagi kami yang muslim untuk peduli dan terlibat secara emosional dalam konflik ini.
Lanjut Baca »
Ditulis dalam Humaniora, Kontemplasi | yang berkaitan islam, palestina, solidaritas | 2 Komentar »
7 Januari 2009 oleh muhfirman
Panjang nian sejarah konflik tak berkesudahan ini.
Ketika beberapa hari yang lalu Palestina-Israel memanas kembali, dan untuk kesekiankalinya kita saksikan ribuan orang menjadi korban–anak-anak balita sampai orangtua jompo–diserang, dibom, diluluhlantakkan, satu demi satu pertanyaan muncul berputar-putar di pikiran saya.
Mengapa konflik ini begitu panjang tak kunjung selesai. 60 tahun lebih sudah sejak negara Israel dideklarasikan yang menyulut konflik bersenjata hingga saat ini. Mengapa setiap keadaan seakan membaik untuk beberapa saat, kemudian dengan mudahnya konflik senjata muncul kembali–seakan semua usaha perdamaian yang diupayakan dengan begitu sulit sebelumnya hangus tak berbekas.
Ada apa sebenarnya dengan Bangsa Israel ini? Kalaulah semua berita yang saya dengar selama ini benar, mengapa tabiat mereka begitu rupa? maka wajar rasanya pertanyaan ini muncul. Seperti apa sebenarnya tabiat mereka sebagai sebuah bangsa…?
Lanjut Baca »
Ditulis dalam Humaniora, Kontemplasi | yang berkaitan islam, muslim, palestina | 12 Komentar »